cinta mengapa harus ragu ? Ku memulai kasih ketika
aku ditakdirkan Tuhan untuk menjadi manusia kecil dalam kandungan, di
sayang, di do’akan dan di nanti. Alhamdulillah kini ku telah menjadi
manusia seutuhyna yang aku berharap aku pun dapat menyayangi dan
menyebar cinta pada segala makhluk di sekitarku, kabulkan ya Allah Amin.
Sepertiga malam yang agung yang di hiasi tetesan embun berpadu
menyambut uluran kasih sang maha di raja tak dinyana hatiku luluh akan
kebesaran-Nya, ketika ku lihat alam tenang dalam sujud-Nya tanpa di
ganggu ulah using yang selalu di jentikkan makhluk pendosa, oh….alangkah
indanhya. Belum sempat menyelesaikan lamunanku suara khasku telah
berdayu-dayu menyebarkan kalam suci Tuhan untuk merasuki setiap telinga
akan menjadi isyarat bahwa fajar segera menyapa, bangun dik! Suara kakak
pengurus membangunkan teman-temanku yang masih berselimut mimpi sontak
semuanya bergerak ada yang menggaruk rambut sampai ada yang mengigau
seakan tidak rela dunia mimpinya berganti fajar, ak tersenyum sendiri
melihat teman-temanku yang telah membuatku menjadi tidak asing di pondok
ini pondok yang asri dengan pohon kelapanya yang meliup-liup menyuplai
oksigen ke penghuni pondok Ar-Rayyan tercinta. Adzan subuh telah
berkumandang sebagai tanda tiba saatnya tuk mengabdi juga sebagai
isyarat bahwa hari baru kita sebagai santri telah di mulai, sajadah di
gelar munajat cinta pun terjadi encari beberapa hikmah diantara
pergantian malam dan hari menunjukkan penghambaan mencari cinta sejati
dalam lamunan do’a sebagai perantara aku,temanku dan segala mahkluk
untuk terus mengadu dalam cinta dan harapan. Assalamualaikum serentak
kami menutup munajat cinta dan membuka kembali puja puji untukNYA yang
maha sempurna sampai dibeberapa sudut mata aliran tipis menggenang tak
kuasa menahan rindu pada pencipta keindahan yang sering kami
inkari,sering kami lupakan padahal DIA tidak pernah melupakan kita. Kamu
kenapa jinan ? suara parau sahabatku member kehangatan pada diri yang
dingin,dingin karena menakar cinta dengan takaran matematika yang selalu
berakhir pasti, jinan…! Suara nayla sekali lagi memanggilku yang terus
larut dalam tangisku yang semakin tak mengerti pada cinta,pengorbanan
dan kesetiaan, nay…! Aku mencoba bercerita padanya,menurutmu ketika kita
mencintai seseorang apa kita harus mengharapkannya ? iya jinan,
jawabnya sembari menatapku sayu ,kenapa ? jawabku , keluh karena setiap
harapan yang kau semaikan ia akan menjadi do’a bukankah do’a itu akan
dikabulkan tuhan, jawabnya lembut seakan membawa aura positif kerelung
hatiku, memang nayla adalah sahabatku yang terbaik keluarga yang telah
aku pilih sendiri untu mengaca,berkeluh d tempat berbagi air mataku,
sembari tersenyum ia mengajakku untuk berkonsentrasi menyelami baris
perbaris tafsir kalam suci yang membahas ayat-ayat cinta yang
mengisahkan banyaknya oran-orang yang berpasangan di dunia tapi menjadi
musuh di akhirat kelak, anak-anakku…! Kata kiaiku dengan penuh kasih
sayang, kalian sebagai generasi muda islam jangan pernah terlena dengan
cinta semu, cinta yang hanya kalian nikmati di dunia tapi di akhirat
kelak menjadi musuh yang nyata bagi kalian, ingat..! cinta itu anugerah
cinta itu sunnatullah ia putih,suci dan bermartabat, aku mohon
anak-anakku demi Allah da rasulNYA jangan kalian menodai cinta dengan
alas an apapun, aku berdo’a semoga kalian semua menjadi pecinta di dunia
dan akhirat, amin….! Serentak kami mengamini do’a yang sedang melaju
menuju sebuah titik sekaligus menjadi wejangan penutup kalam suci di
pagi hari yang putih. Mentaripun semakin sigap menerangi pesantrenku
namun sinarnya masih belum mampu menghangatkan hatiku, hati yang terus
ragu pada cinta yang ku pupuk sendiri, cinta yang berusaha aku putihkan
seperti pesan kiaiku, tapi apakah ia mencintaiku ? ia yang telah membuat
hatiku bergetar, ia yang senyumnya aku rindukan namun mengapa aku ragu
pada cintanya ? duh… andai semuanya jelas tak rela aku berpaling
darinya, ia memiliki yang aku butuhkan, ya Allah ada apa denganku
?.lamunan panjan telah menyeretku ke sudut waktu yang semakin sempit
sebentar lagi bel masuk sekolah berbunyi tapi kenapa aku belum bersiap
diri ? sontak pikiranku sadar segera kususuri lantai mushallaku dengan
langkah terburu, sekilas mataku menyapu kesegenap penjuru pondokku
semuanya seakan menyuruhku bergegas, ku kayuhkan langkah mengambil
sandal kususuri halaman luas pondokku bergegas diri karena waktu telah
memenjaraku dalam palsunya lamunan. Jinan..! cepat sebentar lagi bell,
kemana aja sich kamu dari tadi ? seloroh temanku dengan pandangan iba
mungkin dibenaknya keterlambatanku adalah kesengajaan padahal aku tidak
bermaksut begitu hanya saja keraguan cintaku semakin menyeretku pada
gamangnya hidup diantar hayalan dan kenyataan. Assalamualaikum..! aku
menyebar do’a keselamatan pada teman-temanku yang tengah bersiap
menyimak materi di sekolah, serta merta semua pandangan tertuju padaku
pandangan kesal,iba dan haru semuanya berpadu seakan menyelidiki
keterlambatanku memasuki kelas, ma’af bu..! saya terlambat, kenapa kamu
terlambat jinan ? Tanya guruku dengan penuh kasih sayang, ia memang
seorang guru yang professional yang memandang segi positif dari
kesalahan namun juga tegas demi sebuah kedisiplinan, ada masalah dengan
kamu ? tidak biasanya kamu begini ? ya sudah silahkan duduk pas itirahat
nanti temui ibu ya.! Setelah dipersilahkan duduk aku disambut senyuman
ramah dari teman-temanku di kelas mereka seakan mengerti mengapa aku
terlamat dan dengan senyum mereka aku merasa segumpal kesedihanku
perlahan memudar dan memutikkan rasa bahagia yang dipancarkan indahnya
persahabatan,terima kasih teman-teman gumamku dalam hati seraya ku
menemui kursiku yang sedari tadi kosong seisi kelaspun mulai larut dalam
dalam pelajaran matematika yang semuanya berakhir pasti, jika sekian
ditambah sekian maka hasilnya sekian juga tutur bu guruku penuh
semangat. Bel tiga kali pun berdenting sebagai isyarat waktu istirahat
tiba semua gembira dan menuju pintu keluar masing-masing ada yang ke
kantin, perpus atau yang melanjutkan sarapan dan yang bergegas menuju
mushalla untuk shalat duha, sementara aku tidak bisa melakukan aktivitas
tersebut aku harus menemui bu guru sesuai perintahnya karena
keterlambatanku , ikut yuk nay..! ajakku pada sohibku itu , ia tersenyum
menggoda, gak jawabnya riang, kenapa ? selidikku kesal, jinan…! Kamu
tahu gak kenapa bu guru menyuruhmu menemuinya ? apa ? tanyaku penasaran,
menurutku beliau ingin menanyakan masalahmu dari hati ke hati, jawaban
nayla membuat hatiku jantungku bergetar sekaligus senang ini
kesempatanku tuk menanyakan sebab keraguan cintaku yang beberapa hari
ini membelengguku. Ku susuri lantai sekolahku dengan langkah pasti
cahaya duha mulai menghempaskan debu debu untuk menguji kesabaran
masyarakat sekolahku, sekolah yang sederhana tapi tidak mau sederhana
tapi tidak mau sederhana dalam keilmuannya, aku pun patut bersyukur
menjadi bagian dari sekolah ini sekolah yang telah merubah cara
pandangku terhadap islam dan al qur’an namun di sekolah ini juga aku
mendapati keraguan terhadap cinta khususnya cinta yang tanpa
pengungkapan. Assalamualaikum ! waalaikumsalam masuk jinan ! perintah bu
guruku sambil sesekali menatap wajahku yang sayu, kamu kenapa nak..?
tanyanya lembut, mendapat perlakuan seperti itu aku tak kuasa memendung
air mataku aku serasa mendapat tempat untuk menumpahkan segala
kegamanganku, melihat diriku sesengukan bu guru menghampiriku memelukku
sambil menguatkan diriku supaya bersabar dan mau bercerita tentang
masalahku,dengan menarik nafas panjang sambil mengucap basmalah
kuceritakan masalahku pada ibu guru, aku bercerita tentang cintaku yang
ragu diantara apakah ia mencintaiku ? kalau iya kenapa ia tida
mengungkapkannya ? apakah ini harapan semuku ? ku bercerita tanpa ada
yang ditutup-tutupi karena ku yakin buguruku mengerti pada keadaanku,
keadaanku yang mungkin pernah beliau alami sehingga aku berharap beliau
bisa member solusi terhadapku. Nak..! beliau mulai bicara ibu rasa kamu
harus bersyukur dengan keadaan ini, ini adalah proses dari kesucian
cinta itu sendiri ingat nak..! masyarakat kita sekarang ini menerima dan
member cinta tanpa keraguan sedikitpun akibatnya bisa fatal,kamu bisa
lihat begitu banyak orang yang tersakiti karena tak meragukan cinta,
bahkan banyak dari mereka yang menyakiti diri sendiri atas nama
cinta,padahal cinta merubah duri jadi mawar bukan sebaliknya, mengenai
keraguanmu tentang apakah ia mecintaimu dan kalau cinta mengapa tidak
mengugkapkannya ibu rasa kamu harus bijak dan melihat segi positifnya,
jinan..! jalaluddin rumi pernah berkata “bahwa cinta tak kan pernah
sirna hanya karena ketidakmaampuan pengungkapan” walaupun ucapan menjadi
kalimat sakti dalam sebuah ikatan tidak selamanya yang diucapkan itu
sesuai dengan isi hati bisa saja apa yang diucapkan itu merupakan umpan
yang kan menyeretmu pada kenistaan buktinya banyak kan.? Kata buguruku
sambil sesekali mengajakku tersenyum, jika kamu ingin membuktikan
cintanya padamu janganlah kamu bergantung pada bahasa lisan tapi
lihatlah bahasa tubuhnya bahasa tubuh sulit untuk berbohong, lagi pula
mungkin ia tidak mengungkapkan cintanya padamu karena ia bijak melihat
kondisimu sekarang, kamu sekarang ada di mana ? Tanya buguruku menggoda,
di pesantren bu jawabku simplel, iya nak..! pesantren adalah tempat
mencari ilmu dan mengabdi pesantren tidak melarang cinta tapi ia
mengajari bagaimana cinta yang tidak hanya di dunia tapi juga di
akhirat, jadi tegarkan hatimu ya jinan..! cinta akan indah pada
waktunya, sambil kembali memelukku beliau mengatakan ya sudah sana ke
kelasmu bel masuk sudah berbunyi, terima kasih bu..! ucapku sambil
menciu tangannya tangan seseorang yang telah mengajariku menyucikan
cinta semoga cintanya berlanjut di akhirat amin.. Dengan jiwa yang lebih
tenang ku berjalan menyusuri koridor sekolahku untuk melanjutkan
belajarku di kelas, kelas sebelas yang ganjil bukankah tuhan menyukai
angka ganjil? Tanyaku pada diri sendiri terima kasih tuhan di kelas
ganjil kesukaanmu itu aku mendapat sahabat yang menggiringku untuk ta’at
padamu dan di kelas itu juga kau berikan seorang guru yang begitu
bijaksana.pesantrenku,sahabatku dan guru-guruku aku mencintai kalian
karena Allah. Sabtu 13 oktober 2012


Tidak ada komentar:
Posting Komentar