Rabu, 12 Februari 2014

cerpen

cinta mengapa harus ragu ?  Ku memulai kasih ketika aku ditakdirkan Tuhan untuk menjadi manusia kecil dalam kandungan, di sayang, di do’akan dan di nanti. Alhamdulillah kini ku telah menjadi manusia seutuhyna yang aku berharap aku pun dapat menyayangi dan menyebar cinta pada segala makhluk di sekitarku, kabulkan ya Allah Amin. Sepertiga malam yang agung yang di hiasi tetesan embun berpadu menyambut uluran kasih sang maha di raja tak dinyana hatiku luluh akan kebesaran-Nya, ketika ku lihat alam tenang dalam sujud-Nya tanpa di ganggu ulah using yang selalu di jentikkan makhluk pendosa, oh….alangkah indanhya. Belum sempat menyelesaikan lamunanku suara khasku telah berdayu-dayu menyebarkan kalam suci Tuhan untuk merasuki setiap telinga akan menjadi isyarat bahwa fajar segera menyapa, bangun dik! Suara kakak pengurus membangunkan teman-temanku yang masih berselimut mimpi sontak semuanya bergerak ada yang menggaruk rambut sampai ada yang mengigau seakan tidak rela dunia mimpinya berganti fajar, ak tersenyum sendiri melihat teman-temanku yang telah membuatku menjadi tidak asing di pondok ini pondok yang asri dengan pohon kelapanya yang meliup-liup menyuplai oksigen ke penghuni pondok Ar-Rayyan tercinta. Adzan subuh telah berkumandang sebagai tanda tiba saatnya tuk mengabdi juga sebagai isyarat bahwa hari baru kita sebagai santri telah di mulai, sajadah di gelar munajat cinta pun terjadi encari beberapa hikmah diantara pergantian malam dan hari menunjukkan penghambaan mencari cinta sejati dalam lamunan do’a sebagai perantara aku,temanku dan segala mahkluk untuk terus mengadu dalam cinta dan harapan. Assalamualaikum serentak kami menutup munajat cinta dan membuka kembali puja puji untukNYA yang maha sempurna sampai dibeberapa sudut mata aliran tipis menggenang tak kuasa menahan rindu pada pencipta keindahan yang sering kami inkari,sering kami lupakan padahal DIA tidak pernah melupakan kita. Kamu kenapa jinan ? suara parau sahabatku member kehangatan pada diri yang dingin,dingin karena menakar cinta dengan takaran matematika yang selalu berakhir pasti, jinan…! Suara nayla sekali lagi memanggilku yang terus larut dalam tangisku yang semakin tak mengerti pada cinta,pengorbanan dan kesetiaan, nay…! Aku mencoba bercerita padanya,menurutmu ketika kita mencintai seseorang apa kita harus mengharapkannya ? iya jinan, jawabnya sembari menatapku sayu ,kenapa ? jawabku , keluh karena setiap harapan yang kau semaikan ia akan menjadi do’a bukankah do’a itu akan dikabulkan tuhan, jawabnya lembut seakan membawa aura positif kerelung hatiku, memang nayla adalah sahabatku yang terbaik keluarga yang telah aku pilih sendiri untu mengaca,berkeluh d tempat berbagi air mataku, sembari tersenyum ia mengajakku untuk berkonsentrasi menyelami baris perbaris tafsir kalam suci yang membahas ayat-ayat cinta yang mengisahkan banyaknya oran-orang yang berpasangan di dunia tapi menjadi musuh di akhirat kelak, anak-anakku…! Kata kiaiku dengan penuh kasih sayang, kalian sebagai generasi muda islam jangan pernah terlena dengan cinta semu, cinta yang hanya kalian nikmati di dunia tapi di akhirat kelak menjadi musuh yang nyata bagi kalian, ingat..! cinta itu anugerah cinta itu sunnatullah ia putih,suci dan bermartabat, aku mohon anak-anakku demi Allah da rasulNYA jangan kalian menodai cinta dengan alas an apapun, aku berdo’a semoga kalian semua menjadi pecinta di dunia dan akhirat, amin….! Serentak kami mengamini do’a yang sedang melaju menuju sebuah titik sekaligus menjadi wejangan penutup kalam suci di pagi hari yang putih. Mentaripun semakin sigap menerangi pesantrenku namun sinarnya masih belum mampu menghangatkan hatiku, hati yang terus ragu pada cinta yang ku pupuk sendiri, cinta yang berusaha aku putihkan seperti pesan kiaiku, tapi apakah ia mencintaiku ? ia yang telah membuat hatiku bergetar, ia yang senyumnya aku rindukan namun mengapa aku ragu pada cintanya ? duh… andai semuanya jelas tak rela aku berpaling darinya, ia memiliki yang aku butuhkan, ya Allah ada apa denganku ?.lamunan panjan telah menyeretku ke sudut waktu yang semakin sempit sebentar lagi bel masuk sekolah berbunyi tapi kenapa aku belum bersiap diri ? sontak pikiranku sadar segera kususuri lantai mushallaku dengan langkah terburu, sekilas mataku menyapu kesegenap penjuru pondokku semuanya seakan menyuruhku bergegas, ku kayuhkan langkah mengambil sandal kususuri halaman luas pondokku bergegas diri karena waktu telah memenjaraku dalam palsunya lamunan. Jinan..! cepat sebentar lagi bell, kemana aja sich kamu dari tadi ? seloroh temanku dengan pandangan iba mungkin dibenaknya keterlambatanku adalah kesengajaan padahal aku tidak bermaksut begitu hanya saja keraguan cintaku semakin menyeretku pada gamangnya hidup diantar hayalan dan kenyataan. Assalamualaikum..! aku menyebar do’a keselamatan pada teman-temanku yang tengah bersiap menyimak materi di sekolah, serta merta semua pandangan tertuju padaku pandangan kesal,iba dan haru semuanya berpadu seakan menyelidiki keterlambatanku memasuki kelas, ma’af bu..! saya terlambat, kenapa kamu terlambat jinan ? Tanya guruku dengan penuh kasih sayang, ia memang seorang guru yang professional yang memandang segi positif dari kesalahan namun juga tegas demi sebuah kedisiplinan, ada masalah dengan kamu ? tidak biasanya kamu begini ? ya sudah silahkan duduk pas itirahat nanti temui ibu ya.! Setelah dipersilahkan duduk aku disambut senyuman ramah dari teman-temanku di kelas mereka seakan mengerti mengapa aku terlamat dan dengan senyum mereka aku merasa segumpal kesedihanku perlahan memudar dan memutikkan rasa bahagia yang dipancarkan indahnya persahabatan,terima kasih teman-teman gumamku dalam hati seraya ku menemui kursiku yang sedari tadi kosong seisi kelaspun mulai larut dalam dalam pelajaran matematika yang semuanya berakhir pasti, jika sekian ditambah sekian maka hasilnya sekian juga tutur bu guruku penuh semangat. Bel tiga kali pun berdenting sebagai isyarat waktu istirahat tiba semua gembira dan menuju pintu keluar masing-masing ada yang ke kantin, perpus atau yang melanjutkan sarapan dan yang bergegas menuju mushalla untuk shalat duha, sementara aku tidak bisa melakukan aktivitas tersebut aku harus menemui bu guru sesuai perintahnya karena keterlambatanku , ikut yuk nay..! ajakku pada sohibku itu , ia tersenyum menggoda, gak jawabnya riang, kenapa ? selidikku kesal, jinan…! Kamu tahu gak kenapa bu guru menyuruhmu menemuinya ? apa ? tanyaku penasaran, menurutku beliau ingin menanyakan masalahmu dari hati ke hati, jawaban nayla membuat hatiku jantungku bergetar sekaligus senang ini kesempatanku tuk menanyakan sebab keraguan cintaku yang beberapa hari ini membelengguku. Ku susuri lantai sekolahku dengan langkah pasti cahaya duha mulai menghempaskan debu debu untuk menguji kesabaran masyarakat sekolahku, sekolah yang sederhana tapi tidak mau sederhana tapi tidak mau sederhana dalam keilmuannya, aku pun patut bersyukur menjadi bagian dari sekolah ini sekolah yang telah merubah cara pandangku terhadap islam dan al qur’an namun di sekolah ini juga aku mendapati keraguan terhadap cinta khususnya cinta yang tanpa pengungkapan. Assalamualaikum ! waalaikumsalam masuk jinan ! perintah bu guruku sambil sesekali menatap wajahku yang sayu, kamu kenapa nak..? tanyanya lembut, mendapat perlakuan seperti itu aku tak kuasa memendung air mataku aku serasa mendapat tempat untuk menumpahkan segala kegamanganku, melihat diriku sesengukan bu guru menghampiriku memelukku sambil menguatkan diriku supaya bersabar dan mau bercerita tentang masalahku,dengan menarik nafas panjang sambil mengucap basmalah kuceritakan masalahku pada ibu guru, aku bercerita tentang cintaku yang ragu diantara apakah ia mencintaiku ? kalau iya kenapa ia tida mengungkapkannya ? apakah ini harapan semuku ? ku bercerita tanpa ada yang ditutup-tutupi karena ku yakin buguruku mengerti pada keadaanku, keadaanku yang mungkin pernah beliau alami sehingga aku berharap beliau bisa member solusi terhadapku. Nak..! beliau mulai bicara ibu rasa kamu harus bersyukur dengan keadaan ini, ini adalah proses dari kesucian cinta itu sendiri ingat nak..! masyarakat kita sekarang ini menerima dan member cinta tanpa keraguan sedikitpun akibatnya bisa fatal,kamu bisa lihat begitu banyak orang yang tersakiti karena tak meragukan cinta, bahkan banyak dari mereka yang menyakiti diri sendiri atas nama cinta,padahal cinta merubah duri jadi mawar bukan sebaliknya, mengenai keraguanmu tentang apakah ia mecintaimu dan kalau cinta mengapa tidak mengugkapkannya ibu rasa kamu harus bijak dan melihat segi positifnya, jinan..! jalaluddin rumi pernah berkata “bahwa cinta tak kan pernah sirna hanya karena ketidakmaampuan pengungkapan” walaupun ucapan menjadi kalimat sakti dalam sebuah ikatan tidak selamanya yang diucapkan itu sesuai dengan isi hati bisa saja apa yang diucapkan itu merupakan umpan yang kan menyeretmu pada kenistaan buktinya banyak kan.? Kata buguruku sambil sesekali mengajakku tersenyum, jika kamu ingin membuktikan cintanya padamu janganlah kamu bergantung pada bahasa lisan tapi lihatlah bahasa tubuhnya bahasa tubuh sulit untuk berbohong, lagi pula mungkin ia tidak mengungkapkan cintanya padamu karena ia bijak melihat kondisimu sekarang, kamu sekarang ada di mana ? Tanya buguruku menggoda, di pesantren bu jawabku simplel, iya nak..! pesantren adalah tempat mencari ilmu dan mengabdi pesantren tidak melarang cinta tapi ia mengajari bagaimana cinta yang tidak hanya di dunia tapi juga di akhirat, jadi tegarkan hatimu ya jinan..! cinta akan indah pada waktunya, sambil kembali memelukku beliau mengatakan ya sudah sana ke kelasmu bel masuk sudah berbunyi, terima kasih bu..! ucapku sambil menciu tangannya tangan seseorang yang telah mengajariku menyucikan cinta semoga cintanya berlanjut di akhirat amin.. Dengan jiwa yang lebih tenang ku berjalan menyusuri koridor sekolahku untuk melanjutkan belajarku di kelas, kelas sebelas yang ganjil bukankah tuhan menyukai angka ganjil? Tanyaku pada diri sendiri terima kasih tuhan di kelas ganjil kesukaanmu itu aku mendapat sahabat yang menggiringku untuk ta’at padamu dan di kelas itu juga kau berikan seorang guru yang begitu bijaksana.pesantrenku,sahabatku dan guru-guruku aku mencintai kalian karena Allah. Sabtu 13 oktober 2012
Share on Facebook Share on Twitter

Tidak ada komentar:

Posting Komentar