Jumat, 07 Maret 2014

cerpen



Ramadhanku
Ramadahan tinggal hitungan jari lagi kan segera selesai bulan barokah kan segera berlalu dengan iringan  takdir kemenangan sayup-sayup takbir akan memecah langit memulangkan keagungan ramadhan ,keagungan yang akan selalu di rindu sepanjang  tahun di saat fajar puasa di mulai menahan makan, menahan nafsu dan amarah mencari ridho ilahi berlomba-lomba memperbanyak  ibadah karena semua tahu di bulan ramadhan pahala berlipat-lipat  dan ampunan di bentangkan, ketika mentari mulai senja rasa senang membuncah sebab lapar sehari akan segera terhapuskan dalam waktu sekejap itulah keindahan dan kebahagiaan yang selalu aku rindukan di bulan ramadhan,kebahagiaan yang tak hanya aku yang merasakan karena kebahagiaan ramadhan sejatinya  telah di janjikan tuhan, tuhan telah berjanji lewat sabda nabinya yang mulia bahwa bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan ketika berbuka dan ketika berjumpa tuhannnya di akhirat kelak.
Rasa rinduku pada bulan ramadhan semakin  terasa ketilka aku mendapati alqur’anku yang berdebu karena jarang di sentuh padahal ketika bulan ramadhan alqur’an begitu akrab di mataku, di lidahku dan di hatiku, ya tuhan apa hanya sebatas ini keimananku  iman yang hanya musiman yang serasa begitu cepat berlalu, iman yang hanya momentum di saat segala pahala di lipat gandakan, aku merasa diriku,imanku dan penghambaanku hanya semata-mata ingin mendapat balasan dari tuhan bukan karena keihklasan bukan karena cinta yang tulus juga bukan karena aku memang sudah selayaknya mengabdi beribadah dan memasrahkan segala hidup dan matiku  sebagaimana telah aku ikrarkan dalam setiap sembahyangku.
Menjalankan puasa di pesantren memberiku nuansa yang baru, di pesantren aku belajar kemandirian serta belajar bersahabat pada mulanya aku canggung dan was was pada yang akan aku alami saat menjalankan puasa di pesantren karena itulah aku bertanya tanya pada temanku tentang segala hal yang harus aku persiapkan mulai dari perlengkapan makan dan kebiasaan yanng biasanya selalu di lakukan saat menyambut buka puasa dan persiapan makan sahur, hemm ! aku merasa lucu pada diriku sendiri yang lebih mementingkan persiapan makan dari pada persiapan untuk menjaring ilmu-ilmu yang akan diberikan di pesantren yang biasanya ketika bulan puasa akan lebih di perbanyak kegiatan mengkaji keilmuan islam.
Hari ketiga di bulan ramadhan saatnya aku dan seluruh santri untuk kembali ke pesantren setelah lima hari liburan untuk menyambut  permulaan ramadhan yang biasanya di desaku di mulai dengan mendatangi pusara auliya yang suci dan kerabat,orang tua,serta guru yang telah berpulang ke rahmatullah  juga kebiasaan di desaku ketika menyambut  awal ramadhan aku dan seluruh masyarakat umumnya membuat rupa-rupa ketupat yang aku anggap penuh dengan muatan filosofis dan tradisi turun temurun yang telah membudaya sebab sekian tahun aku di pesantren aku tidak menemukan satupun dalil ataupun anjuran untuk membuat ketupat di awal ramadhan. Seluruh persiapan untuk menjalankan puasa di pesantren telah aku rampungkan dari termos es,gula dan cangkir untuk berbuka puasa semuanya lengkap tinggal perasaanku saja yang gamang dengan nuansa berbuka di pesantren,maklum saja karena itulah kali pertama aku akan berlepas diri dari layanan orang tuaku di rumah saat berbuka dan bersahur.
Di sore yang keemasan mentari masih sigap menyinari aku menetap lekat rumahku mencium tangan ibuku sekaligus berpamitan bahwa aku akan segera berangkat ke pondok, dengan iringan do’a orang tua aku berangkat ke pesantren jalanan panjang aku labuhi dengan perasaan yang tak menentu bayang-bayang kemelaratan bersatu padu di dadaku aku takut,aku was-was jangan- jangan aku tidak siap untuk berpuasa di pondok namun dengan segenap ragaku yang ingin mencari ilmu dan menaati perintah guruku aku tetap akan berpuasa di pesantren aku sedikit menghibur diriku dengan cerita-cerita indah dari teman-temanku dan keasyikan-keasyikan ketika menyambut buka puasa seperti patungan membeli es sampai suasana senyap saat berbuka puasa sebab semua santri larut dalam sajian buka puasanya masing-masing dan tentu saja saling tukar menukar makanan indah-seindah indahnya. Menjelang buka puasa hampir seluruh santri pondokku telah tiba mereka umumnya kembali ke pondok dengan bekal yang segepok tentu saja sebagai persiapan setengah bulan di pesantren, lalu lalang temanku sedikit mencairkan rasa risau di benakku sebab aku merasa aku takkan berjuang sendirian di pesantren, sana-sini ku sapa temanku sambil berjabat tangan aku bertanya pada mereka “siap puasa di pondok ? “ siap donk ! sahut temanku mantap, ya meski sedikit terpaksa lanjutnya, ha ha kamii pun tertawa bersama melepas risau.
Akhirnya kabar gembira bagi orang yang berpuasa tiba saat mentari menyapa belahan bumi yang lain melambaikan bulan untuk menggantinya dan suara-suara penyeru saling bersahutan di seantero pesantrenku,seisi pesantrenku larut dalam kebahagiaan karena telah mampu menjalankan perintah tuhan,semuanya termasuk aku menikmati anugerah ilahi yang diberikan pada kami  dalam bentuk makanan,es buah yang membasahi kerongkongan dengan sejuknya menghilangkan haus yang seharian kami kekang dan aneka makanan yang siap mengisi perut, semua itu rasa bahagia pertama yang didapati orang yang berpuasa peluh pun tercucur,tenaga kembali pulih,terima kasih tuhan semoga Engkau menerima ibadah puasa kami amin.
Suka cita buka puasa pertama di pesantren telah di mulai dengan semangat persahabatan dan saling berbagi,cerita-cerita dan curhatpun di mulai dari yang lupa bahwa dirinya berpuasa hingga tanpa sadar minum air,ada yang terlambat makan sahur sehingga hampir tidak kuat berpuasa sampai yang telah berhasil menyelesaikan sepuluh juz dalam waktu tiga hari, subhanallah  !  inilah yang aku rindukan di bulan ramadhan saat semua orang seakan mendapat semangat baru dalam hidupnya dari yang semula malas beribadah tiba-tiba menjadi rakus beribadah dari yang semula suka bergibah pada bulan puasa gibah di minimalkan seminimal mungkin saat seperti itulah syetan serasa di penjara karena setiap manusia ingin memperbaiki dirinya dengan cara meninggalkan segala hal yang mendekati maksiat,semua ingin menabung pahala sebanyak-banyaknya melebur dosa sehabis-habisnya hingga saat lebaran tiba dirinya kembali fitri seperti bayi yang lahir tanpa dosa sedikitpun hingga layaklah berbahagia dengan menyuarakan takbir kemenangan.
Nuansa ramadhan mulai beradaptasi dengan diriku badan yang terasa segar kembali setelah berbuka puasa dan saat itulah rasa malas menghampiriku dan hal tersebut tidak aku alami sendiri rata-rata temanku mengalaminya semua bermalas-malasan sambil ngobrol,ngerumpi dan ada yang sampai terlelap namun acara malas-malasan kami akan segera di akhiri ketika rasa cinta pada ilahi mengabarkan bahwa kami belum shalat maghrib ya shalat maghrib biasa dilakukan  sesudah berbuka olehku dan mayoritas temanku karena kami khususnya aku biasanya tidak akan fokus shalat jika perut belum di isi ini tentu saja berbeda dengan kiaiku dan sebagian santri yang berbuka sekedarnya saja kemudian melaksanakan shalat maghrib mereka dan beliau memang oranng-orang pilihan.
Menyadari diri yang belum shalat kami biasanya langsung menyerbu kamar mandi dengan berkalung handuk handuk dan  menenteng gayung dan pastinya kamar mandi sudah penuh sesak denngan antrian saat itulah obrolan kami berlanjut “kamu merasa nyaman gak berpuasa di sini ? “ tanya seorang temanku padaku yang sedang menghitung antrean “ emm kalau bicara enak ya menurutku ya lebih enak di rumah tentu saja sebab di rumah segala sesuatunya telah di persiapkan namun nuansa seperti ini yang tidak aku dapatkan di rumah,berbuka bersama menyiapkan buka sendiri dan antri mandi” jawabku diplomatis, he he iya juga ya ujar temanku merespon jawabanku.
Kecipak air terdengar di sudut-sudut kamar mandi mencipta irama sendu tentang pengabdian diri dan tanggung jawab diri untuk memelihara keindahan dan kebersihan tubuh yang telah di anugerahkansang maha kuasa, kini tiba giliranku memasuki kamar mandi setelah sekitar sepuluh menit dalam antrian, sementara malam semakin menyelimuti pesantrenku akupun harus bergegas agar mega merah di angkasa tidak hilang pertanda maghrib telah berlalu. Assalmualaikum aku menutup shalat maghrib usai sudah kewajibanku bersujud pada yang esa sementara di sekelilingku puja-puji terlantun dari santri yang tidak mau melewatkan hari-hari ramadhan tanpa ibadah, di pengeras suara mesjid ratibul haddad sedang dikumandangkan denngan suara merdu dan perasaan tulus siapapun yang mendengar akn merasa bersalah karena telah tidak mensyukkuri hidup termasuk aku, hatiku terenyuh mendengar lantunan ratibul haddad sedikit aku memahami arti puja-puji itu dari kepasrahan pada tuhan,mohon ampunan dan keselamlatan dunia akhirat.
Aku berdiri menghampiri tempat mushaf untuk mengambil alquranku yang bersampul putih  aku telah berikrar pada diriku sendiri untuk memperbanyak hatam alquran di bulan ramadhan  aku menargetkan diri minimal hatam tiga kali selama ramadhan itu artinya tiap 24 jam aku harus mengaji tiga juz target yang realistis bagi diriku yang  rada-rada pemalas kenapa aku mengatakan pemalas karena ada sebagian temanku yang dalam waktu 24 jam bisa ngaji 10 juz. Dengan basmalah ku buka mushafku aku langsung di sambut lekukan huruf yang penuh arti dan kental dengan mukjizat, firman ilahi yang takkan lekang dalam sejarah,sebagai ilmu,hidayah dan penuntun kehidupan dunia akhirat, mulutku mulai merangkai huruf ke kata,kata ke kalimat aku terbayang tentang mulianya nabiku yang terpillih menerima wahyu alquran setiap kalimat di alquran seakan memberiku magis tersendiri setiap hurufnya bernilai sepuluh pahala apalagi jika digandakan dengan pahala di bulan ramadhan alquran bagiku di bulan ramadhan aku jadikan ladanng pahala  yang subur untuk mendekatkan diri pada tuhan dan untuk memperoleh hidayah alquran agar jiwaku tentram hatiku lapang dan sebagai sedikit hadiah untuk orang tuaku yang telah berjasa membimbingku sejak kecil hingga kini.dalam samudera alquran aku larut lembar perlembar telah aku jelajahi sejarah yang berkisah memberiku pelajaran berarti dasar kebijaksanaan terpapar indah membimbing manusia dengan jelas pada jalan tuhan yang kan berbalas kebahagiaan, sementara adzan isya’ berkumandang ku mengahiri bacaan alquranku kucium kalam Allah yang suci mata masih mengerjap-ngerjap menenangkan diri setelah beberapa menit merangkai huruf alquran, adzan selesai shalawatpun dikumandangkan dengan merdu memanggil para santri dan orang-oran yang ingin menjalankan shalat tarawih aku melangkahkan diri untuk menaruh alquranku ditempatnya semula “shalat tarawih bareng syaihuna yuk..!” dimana..? jawabku spontan pada teman di sampingku tempat aku menaruh alquran “ya di ruang tamu” tapi kalau tarawih bareng syaihuna lama karena beliau tiap salam membaca selembar alquran gimana kamu siap..? ujar temanku menjelaskan,sambil sedikit merenungg ku iyakan saja ajakannya sebab ini kesempatan bagiku untuk bertarawih dengan cara yang luar biasa apalagi langsung diimami kiai junjungan kami di pesantren, ya ayo berangkat ajak temanku lagi yang sudah rapi dengan sorban dan sajadahnya kami pun langsung menuju ruang tamu tempat tarawih syaihuna yang memang sengaja berpisah dengan mesjid hikmahnya tentu saja bagi yang ingin bertarawih dengan waktu yang biasa saja bisa memilih berjemaah di mesjid sedang bagi yang ingin menghatamkan sejuz tiap malam bisa bermakmum pada syaihuna pilihan yang bijak menurutku, sampai di ruang tamu shalawat telah terlantun dari temanku yang lain dan para guru akupun memasuki ruang tamu dengan perasaan yang tak bisa aku bahasakan rasa tentram,haru dan bangga menjadi satu apalagi saat shalat tarawih dimulai lantunan alquran dari kiaiku mengalun merdu memberi kabar gembira dan sedih tak dinyana hatiku tergetar.
Shalat tarawih bareng syaihuna mengajarkanku tentang hal yang dari dulu ku anggap biasa-biasa saja,biasanya tarawih yang aku jalankan tak ubahnya arena kebut-kebutan antar mushalla satu dengan yang lainnya hingga siapa yang selesai duluan itulah pemenangnya kini aku menyadari bahwa esensi ibadah bukanlah siapa yang tercepat dan siapa yang terbanyak melainkan kebagusan ibadah itu sendiri dan seberapa benar rukun dan syarat itu dilaksanakan alhamdulillah aku sadar rasa syukurku bertambah ketika selesai tarawih kami bisa mencium tangan syaihuna dan mendapat jajanan yang disedekahkan oleh keluarga besar pesantrenku, sambil melangkah keluar halaman ruang tamu kami saling lirik makanan masing-masing satu lirikan seakan mengomando kami untuk memakannya ”enak ya” kataku pada seorang temanku yang sedang asyk mengunyah serta merta ia langsung menghentikan kunyahannya dan berucap dengan nada meyakinkan “banget” kami pun tersenyum puas sambil melangkah melepas lelah. Sementara di langit bulan sabit makin nampak terang sebagai tanda bulan ramadhan telah memasuki malam keempat tiga hari ramadhan telah berlalu mencipta beberapa kisah dan di mesjid pesantren para santri sedang melaksanakan tadarus alquran sebagai kegiatan dan ibadah tambahan untuk mengisi ramadhan dengan seabrek ibadah, lantunan kalam suci menjadi mercusuar bagi diri yang tersesat dengan rupa-rupa dosa rasa angkuh dan serakah, lantunan alquran itu akan terus akan terus terdengar hingga saat makan sahur tiba dan dilantunkan oleh segenap santri yang terus mengais tiap pahala satu persatu huruf alquran seraya berharap keagungan cinta sang maha kuasa menyelimuti hati agar tetap istiqomah di jalan lurus agama Allah.
Malam yang semakin larut mulai menyelimuti pesantrenku sementara aku masih menerka-nerka tentang segala hal yang harus aku jalani di pesantren perasaan belum betah di pondok sehabis liburan semakin membuatku was-was aku jadi teringat kerumah pada keluargaku yang mungkin saat itu juga mengingatku ku lihat ke sekelilingku mulai sepi teman-temanku sudah banyak yang tertidur melepas lelah fisik dan mental di awal-awal bulan puasa namun kumandang kumandang alquran masih terus terdengar dipengeras suara mesjid tanda bahwa sebagian santri masih melakukan tadarus alquran,keindahan alquran coba ku jadikan pengantar tidurku agar rasa was-was menjalankan puasa di pesantren sedikit reda, dan lantunan alquran yang ku dengar seakan riuh rendah tanda bahwa bahwa diriku akan segera tertidur dan beberapa saat kemudian aku benar-benar tertidur juga melepas letih beradaptasi dengan bulan puasa yang penuh berkah.
Ku buka mata ketika sayup-sayup tarhim terlantun dipengeras suara mesjid tak terasa tidur telah mengantarku pada kegiatan lain yang mesti ada disetiap ramdhan,kegiatan pondok begitu ramai dengan persiapan makan sahur pada jam tiga dini hari para santri mengambil bekalnya yang tersisa dari rumahnya masing-masing rasa kantuk masih tergaris di wajah mereka dan rasa tak biasa makan pada dini hari membuat mulut serasa sulit untuk menelan makanan akupun merasakan itu namun demi niatan beribadah dan supaya kuat berpuasa akupun berusaha makan sebaik-baiknya selesai makan sahur kegiatan kami bershalat tahajut mendekatkan diri pada tuhan rasa ngantuk yang berlanjut setelah makan sekuat mungkin kami lawan dan demi menghilangkan rasa kantukku aku kembali mengambil mushaf putihku untuk kembali membaca alquran hal itu nyaris serentak di lakukan temanku yang lain sebab kami sadar rasa ngantuk akan sedikit reda ketika mata di ajak membaca kalam tuhan yang menyejukkan hati.
Fajar putih menyapa bumi saat cinta masih terikat dalam lantunan ayat suci kini fajar hari keempat bulan ramadhan telah tiba saatnya bagi hamba yang beriman untuk berpuasa menyucikan diri dari segala yang tercela aku memohon pada yang kuasa agar di beri inayahnya agar kuat berpuasa adzan subuhpun berkumandang sayup-sayup mulai mengalun di seantero pesantrenku jema’ah shalat subuhpun mulai berdatangan berbaur dengan para santri yang telah rapi dengan baju putihnya saat iqomah didendangkan aku mendapati diriku yang resah resah karena aku akan mendapati hari yang telah rapi dengan jadwal harian selama bulan puasa,Allahu akbar semoga aku mendapat ketenangan dengan shalat subuh yang kami ibadahkan selesai shalat subuh berjema’ah dzikir tahmid dikumandangkan istighfar memohon ampunan seraya menyucikan diri dengan mengingat tuhan yang maha esa munajat cinta kami tutup dengan pembacaan alfatihah semoga do’a yang telah terhaturkan mendapat ijabah dari Allah SWT.kanan kiri aku bersalaman pada teman di sampingku sambil tersenyum aku bertanya “setelah ini kegiatannya apa..?” temanku yang lebih senior menjawab “biasanya kuliah subuh yang disampaikan oleh pengasuh” lama ya..? tanyaku penasaran “tidak paling sepuluh menit” owh... aku mengangguk sementara teman-temanku dan para jemaah shalat subuh mulai melantunkan hasbunallah wanikmal wakil nikmal maula wanikmannashir tanda sudah siap menerima kuliah subuh syaihuna pun membuka kuliah subuh dengan pembacaan basmalah dan serba-serbi keagungan ramadhan mulai diterangkan terutama pembagian tiga puluh hari menjadi tiga bagian, bagian yang pertama rahmah sepuluh hari kedua maghfiroh dan sepuluh hari yang terakhir pembebasan dari siksa neraka semoga kami bisa memaksimalkan keutamaan ramadhan sehingga di hari lebaran benar-benar menjadi fitri tanpa dosa amin.
Mentari kian benderang menyapa alam setelah kuliah subuh para santripun kebanyakan melanjutkan istirahatnya di setiap sisi mesjid semua bergelimpangan lengkap dengan pakaian yang di kenakan ketika shalat subuh buat yang baru mondok suasana tersebut masih aneh sehingga lebih memilih mengobrol dan mendatangi tempat jadwal di letakkan di sana jelaslah sudah bahwa kajian kitab di mulai pada jam delapan pagi sampai jam sebelas siang dhuhur berjema’ah bersama syaihuna di lanjutkan kajian kitab sampai jam tiga sore aku tertegun melihat jadwal itu jadwal yang begitu padat untuk kami yang berpuasa namun disitulah hikmahnya berpuasa di pesantren aku yang biasanya ketika belum nyantri kegiatannya lebih banyak bermain kini semuanya berusaha dirubah menjadi lebih baik aku jadi teringat dengan kata mutiara yang di sampaikan fitagoras “orang yang memiliki semangat ia akan mencintai apapun yang ada di hadapannya“ dengan kata-kata itu aku berusaha menyemangatkan diri semangat untuk mengisi lembaran ramadhan dengan kegiatan ibadah agar bermakna bulan yang selalu ku rindu dan dirindukan seluruh umat islam.
Setengah delapan geliat santri mulai nampak ada yang bangun dengan sendirinya dan ada yang mesti di bangunkan pengurus muka yang masih beraut kantuk masih nampak jelas dan itu akan luntur setelah guyuran air membasahi badan di pagi hari, tak seperti biasanya hari-hariku pun mesti di rubah kalau di rumah dulu menjelang dhuhur aku baru mandi tapi kini di pesantren tercintaku aku harus mandi di pagi hari agar segar badan ini demi mengkaji keillmuan islam sebagai ibadah dan bekal menjalani kehidupan, jam delan pagi kajian di mulai kami pun mendatangi tiingkatan kami masing-masing sebab kajian di pagi hari di bimbing oleh ustadz sesuai dengan tingkatannya masing-masing dan setelah dhuhur barulah kajian kitab secara umum oleh para santri yang di bimbing langsung oleh pengasuh pondok pesantren.
Hari demi hari terus berjalan setengah bulan kami menjalankan puasa di pesantren suka duka telah aku rasakan manisnya ibadahpun semakin terasa tak sia-sia perjuanganku mlelawan resah menghadapi hari-hari di pesantren sebab aku menjadi semakin tahu arti ramadhan yang sesungguhnya ramadhan dan puasanya bukan menjadi alasan bermalas-malasan melainkan sesbagai sarana  latihan bagaimana menjadi orang lapar hingga peka terhadap mereka yang serba kekurangan dan bagaimana menjaga hawa nafsu agar tidak selalu menggiring manusia pada kemaksiatan terima kasih kiaiku perantara andalah kami belajar sabar menjalani kehidupan,belajar beribadah pada yang kuasa dan belajar ilmu sebagai pelita diri terima kasih para guru dan ustadzku perantara andalah kami mampu menterjemahkan ajaran agama dalam menjalani kehidupan yang pasang surut juga terima kasih bagi seluruh sahabatku di pesantren karena sahabatlah aku tidak menjadi orang asing di pesantren dan karena sahabat pula aku bisa terbantu dalam setiap kebutuhan serta sebagai mitra dan pemotivasi di saat mendapati diri mulai resah dan putus asa.
Di malam tujuh belas ramadhan yang bertepatan dengan nuzulul quran diadakanlah acara peringatan tersebut dengan berbukak bersama suka cita nampak jelas di wajah kami karena keesokan harinya liburan panjang akn menghampiri kami syukuranpun di gelar oleh pengasuh untuk menyelamati tadarusan kami yang telah khatam tiga kali dalam peringatan itu disampaikanlah pesan-pesan menjelang liburan syaihuna selalu berpesan “jagalah ahklak kalian anakku sebab ahklak itu menjadi barometer keilmuan kalian” engki...! kami pun mengiyakan. Mentari ramadhan ke tujuh belas mayoritas santri termasuk aku berpamitan pada pengasuh pamit untuk pulang ke rumah sementara untuk menghabiskan sisa ramadhan dan berlebaran di rumah satu persatu kami menciumi tangan pengasuh sebagai bakti yang yang terdalam,setelah itu kami pun melambaikan tangan pada pondok untuk meninggalkannya sementara tak terasa hatiku tergetar rumah kembali aku diami di sisa sisa ramadhan aku berusaha menularkan kegiatan yang aku jalani di pondok seperti rajin mengaji dan shalat tahajut targetku khatam alquran tiga kali dan alhamdulillah usahaku berjalan lancar, minggu terakhir di bulan ramadhan ujian mendatangiku tuhan memberiku ujian dengan rasa sakit pada diriku,diriku menjadi lemah dan hampir saja tidak kuat berpuasa rasa sakit itu seakan bertambah tatkala seluruh umat islam bersiap-siap menyambut lebaran dengan beragam kegiatan aku harus terbaring dengan sakitku,hatiku terasa perih tatkala niat menyempurnakan seluruh shalat tarawih di bulan ramadhan gagal sehari menjelang lebaran rasa sakitku belum juga reda aku memohon pada yang kuasa untuk menyembuhkanku secepatnya agar aku bisa merayakan lebaran dalam keadaan sehat lahir batin.
Sore hari di hari terakhir bulan ramadhan di saat umat islam sudah riang gembira dengan lebaran dan baju barunya aku masih terbaring sakit maghrib pun tiba dengan diikuti gema takbir kemenangan semua orang bersuka cita dengan bertakbir di mushalla dan mesjid sampai fajar menyapa saat  hari lebaran tiba aku masih belum sembuh aku menangis di hari lebaran di saat semua umat islam bersiap sholat ied gema takbir yang terlantun mengiringi air mataku yang terus mengalir menatapi baju baruku yang rencananya akan aku kenakan di hari lebaran, ku dekap baju baruku dengan air mata meleleh Allahu akbar semoga aku bisa shalat ied tahun berikutnya.
24 Mei 2013
Tholabdzulhimmah nisawi elmandasy

Tidak ada komentar:

Posting Komentar