Ramadhanku
Ramadahan tinggal hitungan jari lagi kan segera selesai bulan
barokah kan segera berlalu dengan iringan
takdir kemenangan sayup-sayup takbir akan memecah langit memulangkan
keagungan ramadhan ,keagungan yang akan selalu di rindu sepanjang tahun di saat fajar puasa di mulai menahan
makan, menahan nafsu dan amarah mencari ridho ilahi berlomba-lomba
memperbanyak ibadah karena semua tahu di
bulan ramadhan pahala berlipat-lipat dan
ampunan di bentangkan, ketika mentari mulai senja rasa senang membuncah sebab
lapar sehari akan segera terhapuskan dalam waktu sekejap itulah keindahan dan
kebahagiaan yang selalu aku rindukan di bulan ramadhan,kebahagiaan yang tak
hanya aku yang merasakan karena kebahagiaan ramadhan sejatinya telah di janjikan tuhan, tuhan telah berjanji
lewat sabda nabinya yang mulia bahwa bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan
dua kebahagiaan ketika berbuka dan ketika berjumpa tuhannnya di akhirat kelak.
Rasa rinduku pada bulan ramadhan semakin terasa ketilka aku mendapati alqur’anku yang
berdebu karena jarang di sentuh padahal ketika bulan ramadhan alqur’an begitu
akrab di mataku, di lidahku dan di hatiku, ya tuhan apa hanya sebatas ini
keimananku iman yang hanya musiman yang
serasa begitu cepat berlalu, iman yang hanya momentum di saat segala pahala di
lipat gandakan, aku merasa diriku,imanku dan penghambaanku hanya semata-mata
ingin mendapat balasan dari tuhan bukan karena keihklasan bukan karena cinta
yang tulus juga bukan karena aku memang sudah selayaknya mengabdi beribadah dan
memasrahkan segala hidup dan matiku sebagaimana telah aku ikrarkan dalam setiap
sembahyangku.
Menjalankan puasa di pesantren memberiku nuansa yang baru, di
pesantren aku belajar kemandirian serta belajar bersahabat pada mulanya aku
canggung dan was was pada yang akan aku alami saat menjalankan puasa di
pesantren karena itulah aku bertanya tanya pada temanku tentang segala hal yang
harus aku persiapkan mulai dari perlengkapan makan dan kebiasaan yanng biasanya
selalu di lakukan saat menyambut buka puasa dan persiapan makan sahur, hemm ! aku
merasa lucu pada diriku sendiri yang lebih mementingkan persiapan makan dari
pada persiapan untuk menjaring ilmu-ilmu yang akan diberikan di pesantren yang
biasanya ketika bulan puasa akan lebih di perbanyak kegiatan mengkaji keilmuan
islam.
Hari ketiga di bulan ramadhan saatnya aku dan seluruh santri untuk
kembali ke pesantren setelah lima hari liburan untuk menyambut permulaan ramadhan yang biasanya di desaku di
mulai dengan mendatangi pusara auliya yang suci dan kerabat,orang tua,serta
guru yang telah berpulang ke rahmatullah
juga kebiasaan di desaku ketika menyambut awal ramadhan aku dan seluruh masyarakat
umumnya membuat rupa-rupa ketupat yang aku anggap penuh dengan muatan filosofis
dan tradisi turun temurun yang telah membudaya sebab sekian tahun aku di
pesantren aku tidak menemukan satupun dalil ataupun anjuran untuk membuat
ketupat di awal ramadhan. Seluruh persiapan untuk menjalankan puasa di
pesantren telah aku rampungkan dari termos es,gula dan cangkir untuk berbuka
puasa semuanya lengkap tinggal perasaanku saja yang gamang dengan nuansa
berbuka di pesantren,maklum saja karena itulah kali pertama aku akan berlepas
diri dari layanan orang tuaku di rumah saat berbuka dan bersahur.
Di sore yang keemasan mentari masih sigap menyinari aku menetap lekat
rumahku mencium tangan ibuku sekaligus berpamitan bahwa aku akan segera
berangkat ke pondok, dengan iringan do’a orang tua aku berangkat ke pesantren
jalanan panjang aku labuhi dengan perasaan yang tak menentu bayang-bayang
kemelaratan bersatu padu di dadaku aku takut,aku was-was jangan- jangan aku
tidak siap untuk berpuasa di pondok namun dengan segenap ragaku yang ingin
mencari ilmu dan menaati perintah guruku aku tetap akan berpuasa di pesantren
aku sedikit menghibur diriku dengan cerita-cerita indah dari teman-temanku dan
keasyikan-keasyikan ketika menyambut buka puasa seperti patungan membeli es
sampai suasana senyap saat berbuka puasa sebab semua santri larut dalam sajian
buka puasanya masing-masing dan tentu saja saling tukar menukar makanan indah-seindah
indahnya. Menjelang buka puasa hampir seluruh santri pondokku telah tiba mereka
umumnya kembali ke pondok dengan bekal yang segepok tentu saja sebagai
persiapan setengah bulan di pesantren, lalu lalang temanku sedikit mencairkan
rasa risau di benakku sebab aku merasa aku takkan berjuang sendirian di
pesantren, sana-sini ku sapa temanku sambil berjabat tangan aku bertanya pada
mereka “siap puasa di pondok ? “ siap donk ! sahut temanku mantap, ya meski
sedikit terpaksa lanjutnya, ha ha kamii pun tertawa bersama melepas risau.
Akhirnya kabar gembira bagi orang yang berpuasa tiba saat mentari
menyapa belahan bumi yang lain melambaikan bulan untuk menggantinya dan
suara-suara penyeru saling bersahutan di seantero pesantrenku,seisi pesantrenku
larut dalam kebahagiaan karena telah mampu menjalankan perintah tuhan,semuanya
termasuk aku menikmati anugerah ilahi yang diberikan pada kami dalam bentuk makanan,es buah yang membasahi
kerongkongan dengan sejuknya menghilangkan haus yang seharian kami kekang dan aneka
makanan yang siap mengisi perut, semua itu rasa bahagia pertama yang didapati
orang yang berpuasa peluh pun tercucur,tenaga kembali pulih,terima kasih tuhan
semoga Engkau menerima ibadah puasa kami amin.
Suka cita buka puasa pertama di pesantren telah di mulai dengan
semangat persahabatan dan saling berbagi,cerita-cerita dan curhatpun di mulai
dari yang lupa bahwa dirinya berpuasa hingga tanpa sadar minum air,ada yang
terlambat makan sahur sehingga hampir tidak kuat berpuasa sampai yang telah
berhasil menyelesaikan sepuluh juz dalam waktu tiga hari, subhanallah !
inilah yang aku rindukan di bulan ramadhan saat semua orang seakan
mendapat semangat baru dalam hidupnya dari yang semula malas beribadah tiba-tiba
menjadi rakus beribadah dari yang semula suka bergibah pada bulan puasa gibah
di minimalkan seminimal mungkin saat seperti itulah syetan serasa di penjara
karena setiap manusia ingin memperbaiki dirinya dengan cara meninggalkan segala
hal yang mendekati maksiat,semua ingin menabung pahala sebanyak-banyaknya
melebur dosa sehabis-habisnya hingga saat lebaran tiba dirinya kembali fitri
seperti bayi yang lahir tanpa dosa sedikitpun hingga layaklah berbahagia dengan
menyuarakan takbir kemenangan.
Nuansa ramadhan mulai beradaptasi dengan diriku badan yang terasa
segar kembali setelah berbuka puasa dan saat itulah rasa malas menghampiriku
dan hal tersebut tidak aku alami sendiri rata-rata temanku mengalaminya semua
bermalas-malasan sambil ngobrol,ngerumpi dan ada yang sampai terlelap namun
acara malas-malasan kami akan segera di akhiri ketika rasa cinta pada ilahi
mengabarkan bahwa kami belum shalat maghrib ya shalat maghrib biasa
dilakukan sesudah berbuka olehku dan
mayoritas temanku karena kami khususnya aku biasanya tidak akan fokus shalat
jika perut belum di isi ini tentu saja berbeda dengan kiaiku dan sebagian
santri yang berbuka sekedarnya saja kemudian melaksanakan shalat maghrib mereka
dan beliau memang oranng-orang pilihan.
Menyadari diri yang belum shalat kami biasanya langsung menyerbu
kamar mandi dengan berkalung handuk handuk dan menenteng gayung dan pastinya kamar mandi
sudah penuh sesak denngan antrian saat itulah obrolan kami berlanjut “kamu
merasa nyaman gak berpuasa di sini ? “ tanya seorang temanku padaku yang sedang
menghitung antrean “ emm kalau bicara enak ya menurutku ya lebih enak di rumah
tentu saja sebab di rumah segala sesuatunya telah di persiapkan namun nuansa
seperti ini yang tidak aku dapatkan di rumah,berbuka bersama menyiapkan buka
sendiri dan antri mandi” jawabku diplomatis, he he iya juga ya ujar temanku
merespon jawabanku.
Kecipak air terdengar di sudut-sudut kamar mandi mencipta irama
sendu tentang pengabdian diri dan tanggung jawab diri untuk memelihara
keindahan dan kebersihan tubuh yang telah di anugerahkansang maha kuasa, kini
tiba giliranku memasuki kamar mandi setelah sekitar sepuluh menit dalam
antrian, sementara malam semakin menyelimuti pesantrenku akupun harus bergegas
agar mega merah di angkasa tidak hilang pertanda maghrib telah berlalu.
Assalmualaikum aku menutup shalat maghrib usai sudah kewajibanku bersujud pada
yang esa sementara di sekelilingku puja-puji terlantun dari santri yang tidak
mau melewatkan hari-hari ramadhan tanpa ibadah, di pengeras suara mesjid
ratibul haddad sedang dikumandangkan denngan suara merdu dan perasaan tulus
siapapun yang mendengar akn merasa bersalah karena telah tidak mensyukkuri
hidup termasuk aku, hatiku terenyuh mendengar lantunan ratibul haddad sedikit
aku memahami arti puja-puji itu dari kepasrahan pada tuhan,mohon ampunan dan keselamlatan
dunia akhirat.
Aku berdiri menghampiri tempat mushaf untuk mengambil alquranku
yang bersampul putih aku telah berikrar
pada diriku sendiri untuk memperbanyak hatam alquran di bulan ramadhan aku menargetkan diri minimal hatam tiga kali
selama ramadhan itu artinya tiap 24 jam aku harus mengaji tiga juz target yang
realistis bagi diriku yang rada-rada
pemalas kenapa aku mengatakan pemalas karena ada sebagian temanku yang dalam
waktu 24 jam bisa ngaji 10 juz. Dengan basmalah ku buka mushafku aku langsung
di sambut lekukan huruf yang penuh arti dan kental dengan mukjizat, firman
ilahi yang takkan lekang dalam sejarah,sebagai ilmu,hidayah dan penuntun
kehidupan dunia akhirat, mulutku mulai merangkai huruf ke kata,kata ke kalimat
aku terbayang tentang mulianya nabiku yang terpillih menerima wahyu alquran
setiap kalimat di alquran seakan memberiku magis tersendiri setiap hurufnya
bernilai sepuluh pahala apalagi jika digandakan dengan pahala di bulan ramadhan
alquran bagiku di bulan ramadhan aku jadikan ladanng pahala yang subur untuk mendekatkan diri pada tuhan
dan untuk memperoleh hidayah alquran agar jiwaku tentram hatiku lapang dan
sebagai sedikit hadiah untuk orang tuaku yang telah berjasa membimbingku sejak
kecil hingga kini.dalam samudera alquran aku larut lembar perlembar telah aku
jelajahi sejarah yang berkisah memberiku pelajaran berarti dasar kebijaksanaan
terpapar indah membimbing manusia dengan jelas pada jalan tuhan yang kan
berbalas kebahagiaan, sementara adzan isya’ berkumandang ku mengahiri bacaan
alquranku kucium kalam Allah yang suci mata masih mengerjap-ngerjap menenangkan
diri setelah beberapa menit merangkai huruf alquran, adzan selesai shalawatpun
dikumandangkan dengan merdu memanggil para santri dan orang-oran yang ingin
menjalankan shalat tarawih aku melangkahkan diri untuk menaruh alquranku
ditempatnya semula “shalat tarawih bareng syaihuna yuk..!” dimana..? jawabku
spontan pada teman di sampingku tempat aku menaruh alquran “ya di ruang tamu”
tapi kalau tarawih bareng syaihuna lama karena beliau tiap salam membaca
selembar alquran gimana kamu siap..? ujar temanku menjelaskan,sambil sedikit
merenungg ku iyakan saja ajakannya sebab ini kesempatan bagiku untuk bertarawih
dengan cara yang luar biasa apalagi langsung diimami kiai junjungan kami di
pesantren, ya ayo berangkat ajak temanku lagi yang sudah rapi dengan sorban dan
sajadahnya kami pun langsung menuju ruang tamu tempat tarawih syaihuna yang
memang sengaja berpisah dengan mesjid hikmahnya tentu saja bagi yang ingin
bertarawih dengan waktu yang biasa saja bisa memilih berjemaah di mesjid sedang
bagi yang ingin menghatamkan sejuz tiap malam bisa bermakmum pada syaihuna
pilihan yang bijak menurutku, sampai di ruang tamu shalawat telah terlantun
dari temanku yang lain dan para guru akupun memasuki ruang tamu dengan perasaan
yang tak bisa aku bahasakan rasa tentram,haru dan bangga menjadi satu apalagi
saat shalat tarawih dimulai lantunan alquran dari kiaiku mengalun merdu memberi
kabar gembira dan sedih tak dinyana hatiku tergetar.
Shalat tarawih bareng syaihuna mengajarkanku tentang hal yang dari
dulu ku anggap biasa-biasa saja,biasanya tarawih yang aku jalankan tak ubahnya
arena kebut-kebutan antar mushalla satu dengan yang lainnya hingga siapa yang
selesai duluan itulah pemenangnya kini aku menyadari bahwa esensi ibadah
bukanlah siapa yang tercepat dan siapa yang terbanyak melainkan kebagusan
ibadah itu sendiri dan seberapa benar rukun dan syarat itu dilaksanakan
alhamdulillah aku sadar rasa syukurku bertambah ketika selesai tarawih kami
bisa mencium tangan syaihuna dan mendapat jajanan yang disedekahkan oleh
keluarga besar pesantrenku, sambil melangkah keluar halaman ruang tamu kami
saling lirik makanan masing-masing satu lirikan seakan mengomando kami untuk
memakannya ”enak ya” kataku pada seorang temanku yang sedang asyk mengunyah
serta merta ia langsung menghentikan kunyahannya dan berucap dengan nada
meyakinkan “banget” kami pun tersenyum puas sambil melangkah melepas lelah.
Sementara di langit bulan sabit makin nampak terang sebagai tanda bulan
ramadhan telah memasuki malam keempat tiga hari ramadhan telah berlalu mencipta
beberapa kisah dan di mesjid pesantren para santri sedang melaksanakan tadarus
alquran sebagai kegiatan dan ibadah tambahan untuk mengisi ramadhan dengan seabrek
ibadah, lantunan kalam suci menjadi mercusuar bagi diri yang tersesat dengan
rupa-rupa dosa rasa angkuh dan serakah, lantunan alquran itu akan terus akan
terus terdengar hingga saat makan sahur tiba dan dilantunkan oleh segenap
santri yang terus mengais tiap pahala satu persatu huruf alquran seraya
berharap keagungan cinta sang maha kuasa menyelimuti hati agar tetap istiqomah
di jalan lurus agama Allah.
Malam yang semakin larut mulai menyelimuti pesantrenku sementara
aku masih menerka-nerka tentang segala hal yang harus aku jalani di pesantren
perasaan belum betah di pondok sehabis liburan semakin membuatku was-was aku
jadi teringat kerumah pada keluargaku yang mungkin saat itu juga mengingatku ku
lihat ke sekelilingku mulai sepi teman-temanku sudah banyak yang tertidur
melepas lelah fisik dan mental di awal-awal bulan puasa namun kumandang
kumandang alquran masih terus terdengar dipengeras suara mesjid tanda bahwa
sebagian santri masih melakukan tadarus alquran,keindahan alquran coba ku
jadikan pengantar tidurku agar rasa was-was menjalankan puasa di pesantren
sedikit reda, dan lantunan alquran yang ku dengar seakan riuh rendah tanda
bahwa bahwa diriku akan segera tertidur dan beberapa saat kemudian aku
benar-benar tertidur juga melepas letih beradaptasi dengan bulan puasa yang
penuh berkah.
Ku buka mata ketika sayup-sayup tarhim terlantun dipengeras suara
mesjid tak terasa tidur telah mengantarku pada kegiatan lain yang mesti ada
disetiap ramdhan,kegiatan pondok begitu ramai dengan persiapan makan sahur pada
jam tiga dini hari para santri mengambil bekalnya yang tersisa dari rumahnya
masing-masing rasa kantuk masih tergaris di wajah mereka dan rasa tak biasa
makan pada dini hari membuat mulut serasa sulit untuk menelan makanan akupun
merasakan itu namun demi niatan beribadah dan supaya kuat berpuasa akupun
berusaha makan sebaik-baiknya selesai makan sahur kegiatan kami bershalat
tahajut mendekatkan diri pada tuhan rasa ngantuk yang berlanjut setelah makan
sekuat mungkin kami lawan dan demi menghilangkan rasa kantukku aku kembali
mengambil mushaf putihku untuk kembali membaca alquran hal itu nyaris serentak
di lakukan temanku yang lain sebab kami sadar rasa ngantuk akan sedikit reda
ketika mata di ajak membaca kalam tuhan yang menyejukkan hati.
Fajar putih menyapa bumi saat cinta masih terikat dalam lantunan
ayat suci kini fajar hari keempat bulan ramadhan telah tiba saatnya bagi hamba
yang beriman untuk berpuasa menyucikan diri dari segala yang tercela aku
memohon pada yang kuasa agar di beri inayahnya agar kuat berpuasa adzan
subuhpun berkumandang sayup-sayup mulai mengalun di seantero pesantrenku
jema’ah shalat subuhpun mulai berdatangan berbaur dengan para santri yang telah
rapi dengan baju putihnya saat iqomah didendangkan aku mendapati diriku yang
resah resah karena aku akan mendapati hari yang telah rapi dengan jadwal harian
selama bulan puasa,Allahu akbar semoga aku mendapat ketenangan dengan shalat
subuh yang kami ibadahkan selesai shalat subuh berjema’ah dzikir tahmid
dikumandangkan istighfar memohon ampunan seraya menyucikan diri dengan
mengingat tuhan yang maha esa munajat cinta kami tutup dengan pembacaan
alfatihah semoga do’a yang telah terhaturkan mendapat ijabah dari Allah
SWT.kanan kiri aku bersalaman pada teman di sampingku sambil tersenyum aku bertanya
“setelah ini kegiatannya apa..?” temanku yang lebih senior menjawab “biasanya
kuliah subuh yang disampaikan oleh pengasuh” lama ya..? tanyaku penasaran
“tidak paling sepuluh menit” owh... aku mengangguk sementara teman-temanku dan
para jemaah shalat subuh mulai melantunkan hasbunallah wanikmal wakil nikmal
maula wanikmannashir tanda sudah siap menerima kuliah subuh syaihuna pun
membuka kuliah subuh dengan pembacaan basmalah dan serba-serbi keagungan
ramadhan mulai diterangkan terutama pembagian tiga puluh hari menjadi tiga
bagian, bagian yang pertama rahmah sepuluh hari kedua maghfiroh dan sepuluh
hari yang terakhir pembebasan dari siksa neraka semoga kami bisa memaksimalkan
keutamaan ramadhan sehingga di hari lebaran benar-benar menjadi fitri tanpa dosa
amin.
Mentari kian benderang menyapa alam setelah kuliah subuh para
santripun kebanyakan melanjutkan istirahatnya di setiap sisi mesjid semua
bergelimpangan lengkap dengan pakaian yang di kenakan ketika shalat subuh buat
yang baru mondok suasana tersebut masih aneh sehingga lebih memilih mengobrol
dan mendatangi tempat jadwal di letakkan di sana jelaslah sudah bahwa kajian
kitab di mulai pada jam delapan pagi sampai jam sebelas siang dhuhur berjema’ah
bersama syaihuna di lanjutkan kajian kitab sampai jam tiga sore aku tertegun
melihat jadwal itu jadwal yang begitu padat untuk kami yang berpuasa namun
disitulah hikmahnya berpuasa di pesantren aku yang biasanya ketika belum
nyantri kegiatannya lebih banyak bermain kini semuanya berusaha dirubah menjadi
lebih baik aku jadi teringat dengan kata mutiara yang di sampaikan fitagoras
“orang yang memiliki semangat ia akan mencintai apapun yang ada di hadapannya“
dengan kata-kata itu aku berusaha menyemangatkan diri semangat untuk mengisi
lembaran ramadhan dengan kegiatan ibadah agar bermakna bulan yang selalu ku
rindu dan dirindukan seluruh umat islam.
Setengah delapan geliat santri mulai nampak ada yang bangun dengan
sendirinya dan ada yang mesti di bangunkan pengurus muka yang masih beraut
kantuk masih nampak jelas dan itu akan luntur setelah guyuran air membasahi
badan di pagi hari, tak seperti biasanya hari-hariku pun mesti di rubah kalau
di rumah dulu menjelang dhuhur aku baru mandi tapi kini di pesantren tercintaku
aku harus mandi di pagi hari agar segar badan ini demi mengkaji keillmuan islam
sebagai ibadah dan bekal menjalani kehidupan, jam delan pagi kajian di mulai kami
pun mendatangi tiingkatan kami masing-masing sebab kajian di pagi hari di
bimbing oleh ustadz sesuai dengan tingkatannya masing-masing dan setelah dhuhur
barulah kajian kitab secara umum oleh para santri yang di bimbing langsung oleh
pengasuh pondok pesantren.
Hari demi hari terus berjalan setengah bulan kami menjalankan puasa
di pesantren suka duka telah aku rasakan manisnya ibadahpun semakin terasa tak
sia-sia perjuanganku mlelawan resah menghadapi hari-hari di pesantren sebab aku
menjadi semakin tahu arti ramadhan yang sesungguhnya ramadhan dan puasanya
bukan menjadi alasan bermalas-malasan melainkan sesbagai sarana latihan bagaimana menjadi orang lapar hingga
peka terhadap mereka yang serba kekurangan dan bagaimana menjaga hawa nafsu
agar tidak selalu menggiring manusia pada kemaksiatan terima kasih kiaiku
perantara andalah kami belajar sabar menjalani kehidupan,belajar beribadah pada
yang kuasa dan belajar ilmu sebagai pelita diri terima kasih para guru dan
ustadzku perantara andalah kami mampu menterjemahkan ajaran agama dalam
menjalani kehidupan yang pasang surut juga terima kasih bagi seluruh sahabatku
di pesantren karena sahabatlah aku tidak menjadi orang asing di pesantren dan
karena sahabat pula aku bisa terbantu dalam setiap kebutuhan serta sebagai
mitra dan pemotivasi di saat mendapati diri mulai resah dan putus asa.
Di malam tujuh belas ramadhan yang bertepatan dengan nuzulul quran
diadakanlah acara peringatan tersebut dengan berbukak bersama suka cita nampak
jelas di wajah kami karena keesokan harinya liburan panjang akn menghampiri
kami syukuranpun di gelar oleh pengasuh untuk menyelamati tadarusan kami yang
telah khatam tiga kali dalam peringatan itu disampaikanlah pesan-pesan
menjelang liburan syaihuna selalu berpesan “jagalah ahklak kalian anakku sebab
ahklak itu menjadi barometer keilmuan kalian” engki...! kami pun mengiyakan.
Mentari ramadhan ke tujuh belas mayoritas santri termasuk aku berpamitan pada
pengasuh pamit untuk pulang ke rumah sementara untuk menghabiskan sisa ramadhan
dan berlebaran di rumah satu persatu kami menciumi tangan pengasuh sebagai
bakti yang yang terdalam,setelah itu kami pun melambaikan tangan pada pondok
untuk meninggalkannya sementara tak terasa hatiku tergetar rumah kembali aku
diami di sisa sisa ramadhan aku berusaha menularkan kegiatan yang aku jalani di
pondok seperti rajin mengaji dan shalat tahajut targetku khatam alquran tiga
kali dan alhamdulillah usahaku berjalan lancar, minggu terakhir di bulan
ramadhan ujian mendatangiku tuhan memberiku ujian dengan rasa sakit pada
diriku,diriku menjadi lemah dan hampir saja tidak kuat berpuasa rasa sakit itu
seakan bertambah tatkala seluruh umat islam bersiap-siap menyambut lebaran
dengan beragam kegiatan aku harus terbaring dengan sakitku,hatiku terasa perih
tatkala niat menyempurnakan seluruh shalat tarawih di bulan ramadhan gagal
sehari menjelang lebaran rasa sakitku belum juga reda aku memohon pada yang
kuasa untuk menyembuhkanku secepatnya agar aku bisa merayakan lebaran dalam
keadaan sehat lahir batin.
Sore hari di hari terakhir bulan ramadhan di saat umat islam sudah
riang gembira dengan lebaran dan baju barunya aku masih terbaring sakit maghrib
pun tiba dengan diikuti gema takbir kemenangan semua orang bersuka cita dengan
bertakbir di mushalla dan mesjid sampai fajar menyapa saat hari lebaran tiba aku masih belum sembuh aku
menangis di hari lebaran di saat semua umat islam bersiap sholat ied gema
takbir yang terlantun mengiringi air mataku yang terus mengalir menatapi baju
baruku yang rencananya akan aku kenakan di hari lebaran, ku dekap baju baruku
dengan air mata meleleh Allahu akbar semoga aku bisa shalat ied tahun
berikutnya.
24 Mei 2013
Tholabdzulhimmah nisawi elmandasy
Tidak ada komentar:
Posting Komentar